Observasi Bersama Stakeholder untuk TerraHub, Aplikasi Pengelolaan Sampah di TPA Kebon Kongok
Setiap hari, truk pengangkut sampah dari Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat tiba di TPA Regional Kebon Kongok, Gerung. Sebelum sampah dibuang ke area timbunan, ada satu tahap yang sering luput dari perhatian: sampah ditimbang dan dicatat. Menurut kajian proses pengelolaan sampah di TPA Kebon Kongok, penimbangan memang menjadi tahapan awal di TPA ini. Dari catatan sederhana inilah data pengelolaan dimulai.
Untuk TerraHub, aplikasi pengelolaan sampah yang akan digunakan di TPA Kebon Kongok, langkah pertamanya bukan menulis kode. Langkah pertamanya adalah datang ke lokasi. Tim melakukan observasi bersama stakeholder untuk memahami bagaimana pekerjaan di TPA berjalan saat ini. Artikel ini merangkum mengapa langkah tersebut penting dan apa saja yang dibahas di lapangan.
Mengapa TPA Kebon Kongok Membutuhkan Pencatatan yang Rapi
TPA Kebon Kongok berstatus TPA regional yang berlokasi di Desa Suka Makmur, Kecamatan Gerung, Lombok Barat, dan melayani dua daerah sekaligus, yaitu Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat. Dengan cakupan layanan seperti itu, arus kendaraan dan volume sampah yang masuk tidak kecil.
Laporan ANTARA tentang volume sampah Mataram dan kondisi Kebon Kongok menyebut jumlah sampah yang masuk mencapai ratusan ton per hari, dengan TPA yang sudah lama berada dalam kondisi melebihi kapasitas. Pemerintah daerah juga sedang menyiapkan perluasan landfill dan penerapan teknologi waste to energy, seperti yang dibahas dalam pemberitaan ANTARA tentang optimalisasi tata kelola sampah terpadu di NTB.
Dalam kondisi seperti ini, data yang akurat menjadi kebutuhan dasar. Berapa banyak sampah yang masuk, dari mana asalnya, dan kapan datangnya adalah informasi yang dipakai untuk merencanakan kapasitas, mengevaluasi operasional, dan menyusun laporan. Kajian akademik yang sama juga mencatat bahwa tahap penimbangan termasuk bagian yang fasilitasnya masih kurang efektif, sehingga ruang untuk perbaikan di tahap ini memang nyata.
Mengapa Observasi Lapangan Dilakukan Sebelum Aplikasi Dibangun
Dalam pengembangan perangkat lunak, tahap ini sering disebut analisis kebutuhan sistem atau requirement gathering. Bahasa sehari-harinya lebih sederhana: survei lokasi, melihat langsung bagaimana pekerjaan dilakukan, lalu bertanya kepada orang yang menjalankannya.
Alasannya praktis. Aplikasi yang bagus di atas kertas bisa saja tidak terpakai bila tidak cocok dengan cara kerja di lapangan. Operator timbangan, petugas TPA, dan pengelola punya kebiasaan, istilah, dan kendala masing-masing. Hal-hal seperti itu hanya terlihat jelas ketika tim berada di lokasi dan mengamati alur yang berjalan, atau yang dalam istilah teknis disebut current flow.
Apa yang Dibahas dalam Observasi Bersama Stakeholder
Pertemuan observasi berlangsung di lokasi TPA Kebon Kongok bersama stakeholder terkait dan pihak Dump Waste Management. Fokus pembahasannya adalah current flow, yaitu alur kerja yang sedang berjalan dan akan didukung oleh aplikasi yang digunakan TPA Kebon Kongok.
Pertanyaan yang lazim dibahas dalam observasi seperti ini, antara lain:
- Siapa yang mencatat sampah masuk, dan di titik mana pencatatan dilakukan.
- Data apa saja yang dicatat untuk setiap kendaraan pengangkut.
- Bagaimana data direkap dan dilaporkan kepada pihak yang membutuhkan.
- Bagian mana yang bisa dirapikan aplikasi tanpa mengganggu proses yang sudah berjalan baik.
Hasil observasi menjadi bahan untuk menyusun alur aplikasi. Prinsipnya, aplikasi mengikuti alur kerja yang ada, bukan sebaliknya. Dengan melibatkan stakeholder sejak awal, masukan dari lapangan bisa langsung masuk ke rancangan sebelum sistem dibangun terlalu jauh.
Pelajaran dari Observasi Ini
Beberapa hal bisa dibawa oleh instansi atau organisasi lain yang ingin mendigitalkan proses kerjanya:
- Datangi lokasi dan lihat prosesnya langsung sebelum menentukan fitur.
- Libatkan pengguna dan pemangku kepentingan sejak tahap awal.
- Petakan alur yang berjalan terlebih dahulu, lalu tentukan bagian yang paling perlu dirapikan.
- Mulai dari kebutuhan yang paling mendesak agar aplikasi cepat terpakai.
Tentang Digitelnusa
Digitelnusa adalah perusahaan teknologi informasi yang mengembangkan aplikasi dan sistem digital sesuai kebutuhan organisasi, mulai dari analisis kebutuhan, perancangan, hingga pengembangan. Di TPA Kebon Kongok, Digitelnusa terlibat dalam pengembangan TerraHub, sebagaimana juga pada sistem lain seperti Certipro untuk sertifikasi. Pendekatan yang kami pakai selalu sama: memahami alur kerja pengguna lebih dulu, baru menentukan fitur.
Jika instansi atau organisasi Anda sedang menyiapkan sistem digital, diskusikan kebutuhan tersebut bersama tim Digitelnusa. Kami siap mendengar alur kerja Anda terlebih dahulu.






